Perpustakaan Elektronik
Minggu, 19 September 2010
Layang-Layang Indonesia Menghiasi Langit Perancis
Tim layang layang Indonesia yang bermotif batik, barong, naga dengan bahan daun lontar tampil pada Festival Layang-Layang International pada Festival International de Cerfs Volants ke-16 yang berlangsung di Dieppe, Perancis, hingga 19 September mendatang.
Delegasi Indonesia dipimpin Sari Madjid beranggotakan sembilan orang juga menampilkan maskot layang layang berbentuk becak lengkap dengan pengayuhnya, demikian Sekretaris kedua Pensosbud KBRI Paris Agus B Jamal dalam keterangan persnya yang diterima ANTARA, Rabu.
Festival yang berlangsung dua tahun sekali ini diikuti oleh 44 negara. Pembukaannya dihadiri beberapa kedubes asing di Paris. Walikota Dieppe mengatakan festival yang bertujuan untuk menjalin persahabatan antar negara ini juga menjadi ajang promosi budaya masing-masing negara peserta.
Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Paris Maruli Tua Sagala berkunjung ke stand Indonesia bersama tim KBRI Paris untuk memberikan dukungan pada tim layang-layang Indonesia yang dipimpin Sari Madjid yang didampingi Nyoman Adnyana, pelopor festival layang-ayang internasional di Sanur, Bali.
Angkasa pantai Dieppe sebagai lokasi festival pun dipenuhi ratusan laying-layang beraneka bentuk, dari yang konvensional sampai moderen, dari kecil hingga besar, dan pendek sampai yang panjang.
Pada hari pembukaan, udara kota Dieppe terlihat cerah dengan angin berhembus cukup kencang, spanduk selamat datang di Dieppe terlihat mengudara ditarik oleh beberapa layang-layang besar. Tidak ketinggalan layang-layang batik dan barong juga melambai-lambai di udara Dieppe.
Pada kesempatan tersebut, layang-layang becak juga mengudara untuk beberapa saat namun karena hembusan angin tidak stabil, terpaksa layang-layang becak diturunkan.
Becak terbang tersebut mengundang perhatian dan kekaguman ribuan penonton yang memadati area festival.
Banyak di antara penonton yang merasa takjub atas keberhasilan becak terbang dan berfoto bersama dengan layang-layang yang mempunyai bentuk dan konstruksi sangat unik.
Perancang layang-layang becak, Kadek, mengatakan bahwa layang-layang becak dipersiapkannya selama tiga minggu dengan mengunakan bahan tradisional, seperti kerangka yang terbuat dari bambu.
KBRI Paris menilai festival layang-layang Dieppe merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mempromosikan kekayaan budaya Indonesia yang perlu mendapat dukungan semua pihak.
KBRI Paris memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membagikan buku pariwisata Indonesia dalam bahasa Perancis yang diterbitkan oleh KBRI Paris.
Sumber : nonblok.com
Program Pembobol Internet Dicabut di Iran
Satu perusahaan perancang program bernama "Haystack" yang didesain agar orang Iran bisa menerobos larangan pemerintah dalam berinternet, menarik lagi perangkat lunaknya, di tengah kekhawatiran keamanan yang mengancamnya.
"Kami menangguhkan kelanjutan pengujian Haystack di Iran menunggu pengkajian keamanan," kata HaystackNetwork.com dalam sebuah pernyataan singkat. "Jika Anda memiliki salinan program pengujian, silakan hentikan penggunaan program itu."
Austin Heap, pendiri Censorship Research Center (CRC) yang berbasis di San Francisco dan pengembang Haystack, juga membahas kekhawatiran mengenai keamanan program tersebut di website pribadinya, AustinHeap.com.
"Baru-baru ini, telah terjadi perdebatan hebat dalam komunitas keamanan mengenai transparansi dan keamanan Haystack," kata Heap. "Kami percaya bahwa poin-poin dalam perdebatan itu sahih."
"Kami telah menghubungi para pengguna Haystack untuk berhenti menggunakan program ini," katanya. "Kami tak akan melanjutkan uji coba sampai kajian dari pihak ketiga selesai dan masalah keamanan dibahas secara terbuka dan transparan."
Pernyataan Haystack itu untuk menghadirkan Internet aman dan tak bersaring untuk orang Iran yang terpengaruh sensor pemerintah.
CRC merilis Haystack menyusul sengketa Pilpres Iran tahun lalu yang memungkinkan Iran berselancar di Web dan berkomunikasi secara anonim.
Sumber : nonblok.com
Memperlembut Payudara Beresiko Kanker
Perempuan yang payudaranya menjadi lembut setelah menjalani terapi penggantian hormon (HRT) menghadapi resiko hampir dua kali lipat untuk terserang kanker payudara ketimbang perempuan yang payudaranya tidak menjadi lembut akibat obat itu.
Beberapa peneliti AS, Senin (12/10), mengatakan, melembutnya payudara mungkin menjadi jalan untuk mengidentifikasi perempuan yang menghadapi resiko lebih besar untuk terserang kanker payudara sewaktu menjalani terapi penggantian hormon guna menangani menopause.
"Kami melaporkan bahwa meningkatnya kelembutan payudara, yang dengan mudah dapat dideteksi oleh dokter atau pasien, mengidentifikasikan penduduk yang memiliki resiko khusus terhadap kanker payudara," kata Dr Carolyn Crandall dari University of California, Los Angeles (UCLA), dan rekannya, di dalam "Archives of Internal Medicine".
Tim tersebut menganalisis data lebih dari 16.000 perempuan yang menggunakan estrogen-plus-progestin sebagai bagian dari studi Women's Health Initiative, atau WHI, yang banyak disebar-luaskan dan dihentikan pada 2002, ketika para peneliti mendapati perempuan menopause yang sehat dan menggunakan obat tersebut lebih mungkin untuk terserang kanker payudara.
Para dokter kini menyarankan pemanfaatan HRT buat perempuan yang menderita gejala parah menopause, tapi mengingatkan bahwa mereka mesti menggunakan dosis paling rendah yang mungkin untuk jangka waktu paling singkat.
Crandall dan rekannya memilah data tersebut untuk melihat apakah melembutnya payudara memainkan peran dalam resiko kanker payudara. Di dalam studi itu, 8.506 perempuan menggunakan estrogen-plus-progestin dan 8.102 menggunakan pil pengganti.
Semua perempuan tersebut menjalani pemeriksaan payudara dan mammogram pada awal percobaan dan setiap tahun sesudahnya. Mereka melaporkan apakah payudara mereka menjadi lembut pada awal percobaan dan satu tahun kemudian.
Berdasarkan analisis mereka, para peneliti itu mendapati perempuan yang menggunakan perawatan hormon memiliki resiko tiga kali lipat untuk mengalami kelembutan payudara.
Dan perempuan yang payudara mereka menjadi lembut setelah menggunakan pil tersebut menghadapi resiko 48 persen lebih tinggi untuk terserang kanker payudara invasif dibandingkan dengan perempuan yang menggunakan HRT.
Tim tersebut mengatakan hubungan antara melembutnya payudara dan resiko kanker payudara tidak jelas.
Mungkin saja terapi hormon membuat sel jaringan payudara berlipat dengan lebih cepat, tapi tim itu tak dapat menjelaskan itu melalui studi tersebut, kata Crandall.
"Kami perlu mengetahui apa yang membuat perempuan tertentu lebih rentan terhadap perkembangkan melembutnya payudara selama terapi hormon," kata Crandall dalam satu pernyataan.
Wyeth mengatakan dalam satu pernyataan bahwa meskipun temuan itu menarik dan mungkin memerlukan studi lebih lanjut, melembutnya payudara bukan faktor resiko pasti bagi kanker payudara.
Mereka mengatakan melembutnya payudara dapat terjadi pada sampai 25 persen perempuan setelah mereka memulai terapi hormon gabungan dan biasanya berlangsung singkat.
"Wyeth terus mendukung penggunaan secara layak terapi hormon dan menyarankan itu digunakan dengan dosis paling rendah untuk rentang waktu yang sesuai sejalan dengan sasaran pengobatan dan resiko bagi perempuan secara pribadi," kata perusahaan tersebut.
Lebih dari 400.000 perempuan meninggal akibat kanker payudara di seluruh dunia setiap tahun. Sebanyak 75 persen kanker payudara adalah positif estrogen-reseptor, yang berarti mereka kebanyakan estrogen.
Sumber : nonblok.com
Perahu Kano dari Sumpit Bekas
![]() |
| Foto : pinktentacle.com |
Shuhei Ogawara memang pecinta lingkungan sejati. Mantan pegawai Kecamatan Fukushima, Kabupaten Koriyama, Jepang ini berhasil membuat sebuah perahu kano (canoe) sepanjang 4 meter dari sumpit bekas.
Dengan telaten sumpit sekali pakai itu dikumpulkannya selama 2 tahun dari sebuah kafetaria di kotanya. Total sumpit yang dibutuhkan adalah 7.382 batang.
Untuk merekatkan seluruh batang sumpit itu ia membutuhkan waktu tiga bulan dengan menggunakan polyester resin coat.Berat perahu kano ini sekitar 30 kg, sedikit lebih berat memang dibandingkan dengan perahu kano pada umumnya.
Tapi dia yakin bahwa kano ini pasti bisa digunakannya meluncur di danau Inawashiro yang indah dekat rumahnya.
Dengan telaten sumpit sekali pakai itu dikumpulkannya selama 2 tahun dari sebuah kafetaria di kotanya. Total sumpit yang dibutuhkan adalah 7.382 batang.
Untuk merekatkan seluruh batang sumpit itu ia membutuhkan waktu tiga bulan dengan menggunakan polyester resin coat.Berat perahu kano ini sekitar 30 kg, sedikit lebih berat memang dibandingkan dengan perahu kano pada umumnya.
Tapi dia yakin bahwa kano ini pasti bisa digunakannya meluncur di danau Inawashiro yang indah dekat rumahnya.
Sumber : nonblok.com
Langganan:
Postingan (Atom)








