Minggu, 19 September 2010

Memperlembut Payudara Beresiko Kanker



Perempuan yang payudaranya menjadi lembut setelah menjalani terapi penggantian hormon (HRT) menghadapi resiko hampir dua kali lipat untuk terserang kanker payudara ketimbang perempuan yang payudaranya tidak menjadi lembut akibat obat itu.

Beberapa peneliti AS, Senin (12/10), mengatakan, melembutnya payudara mungkin menjadi jalan untuk mengidentifikasi perempuan yang menghadapi resiko lebih besar untuk terserang kanker payudara sewaktu menjalani terapi penggantian hormon guna menangani menopause.

"Kami melaporkan bahwa meningkatnya kelembutan payudara, yang dengan mudah dapat dideteksi oleh dokter atau pasien, mengidentifikasikan penduduk yang memiliki resiko khusus terhadap kanker payudara," kata Dr Carolyn Crandall dari University of California, Los Angeles (UCLA), dan rekannya, di dalam "Archives of Internal Medicine".

Tim tersebut menganalisis data lebih dari 16.000 perempuan yang menggunakan estrogen-plus-progestin sebagai bagian dari studi Women's Health Initiative, atau WHI, yang banyak disebar-luaskan dan dihentikan pada 2002, ketika para peneliti mendapati perempuan menopause yang sehat dan menggunakan obat tersebut lebih mungkin untuk terserang kanker payudara.

Para dokter kini menyarankan pemanfaatan HRT buat perempuan yang menderita gejala parah menopause, tapi mengingatkan bahwa mereka mesti menggunakan dosis paling rendah yang mungkin untuk jangka waktu paling singkat.

Crandall dan rekannya memilah data tersebut untuk melihat apakah melembutnya payudara memainkan peran dalam resiko kanker payudara. Di dalam studi itu, 8.506 perempuan menggunakan estrogen-plus-progestin dan 8.102 menggunakan pil pengganti.

Semua perempuan tersebut menjalani pemeriksaan payudara dan mammogram pada awal percobaan dan setiap tahun sesudahnya. Mereka melaporkan apakah payudara mereka menjadi lembut pada awal percobaan dan satu tahun kemudian.

Berdasarkan analisis mereka, para peneliti itu mendapati perempuan yang menggunakan perawatan hormon memiliki resiko tiga kali lipat untuk mengalami kelembutan payudara.

Dan perempuan yang payudara mereka menjadi lembut setelah menggunakan pil tersebut menghadapi resiko 48 persen lebih tinggi untuk terserang kanker payudara invasif dibandingkan dengan perempuan yang menggunakan HRT.

Tim tersebut mengatakan hubungan antara melembutnya payudara dan resiko kanker payudara tidak jelas.

Mungkin saja terapi hormon membuat sel jaringan payudara berlipat dengan lebih cepat, tapi tim itu tak dapat menjelaskan itu melalui studi tersebut, kata Crandall.

"Kami perlu mengetahui apa yang membuat perempuan tertentu lebih rentan terhadap perkembangkan melembutnya payudara selama terapi hormon," kata Crandall dalam satu pernyataan.

Wyeth mengatakan dalam satu pernyataan bahwa meskipun temuan itu menarik dan mungkin memerlukan studi lebih lanjut, melembutnya payudara bukan faktor resiko pasti bagi kanker payudara.

Mereka mengatakan melembutnya payudara dapat terjadi pada sampai 25 persen perempuan setelah mereka memulai terapi hormon gabungan dan biasanya berlangsung singkat.

"Wyeth terus mendukung penggunaan secara layak terapi hormon dan menyarankan itu digunakan dengan dosis paling rendah untuk rentang waktu yang sesuai sejalan dengan sasaran pengobatan dan resiko bagi perempuan secara pribadi," kata perusahaan tersebut.

Lebih dari 400.000 perempuan meninggal akibat kanker payudara di seluruh dunia setiap tahun. Sebanyak 75 persen kanker payudara adalah positif estrogen-reseptor, yang berarti mereka kebanyakan estrogen.

Sumber : nonblok.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar